Cemilan di Manado

Posted in Bon Appetite on April 21, 2011 by suqiyaqi

Sudah lama tidak me-review tentang makanan. Kali ini, saya akan membahas tentang cemilan di Manado. Yang terlintas di benak saya waktu kunjungan ke Manado, makanan khas rica-rica….

Saya mengunjungi sebuah tempat makan kecil (maaf, saya lupa namanya) yang letaknya di ujung jalan di kota Manado. Rumah makan ini cukup ramai di kunjungi orang pada sore hari. Sehingga pada waktu itu saya tertarik untuk menginjakkan kaki dan berkuliner disini. 🙂

Sesuai yang ada di gambar, saya mencoba memesan es kacang merah dan pisang goreng. Eh, tapi ntah kenapa pisangnya di sajikan bersama sambal encer (seperti kuah). Saya mencoba pisang dengan cocolan sambal ini dan ternyata rasanya lumayan enak. Mungkin karena pisangnya yang masih hangat dan sambalnya cukup pedas. Kalau pisangnya saja yang dimakan, hanya seperti pisang goreng kebanyakan (berbeda dengan pisang kalimantan ya!!)

Setelah saya menyantap pisang goreng, saya pun tertarik untuk memesan es kacang merah. Es kacang merahnya berbeda dengan es kacang merah yang biasa saya makan. Biasanya restoran menggunakan dari kalengan ato buat sendiri, tapi bentuknya kecil. Tapi di sini, es kacangnya bukan kalengan dan bentuknya besar, teksturnya pun lembut untuk di kunyah. Selain itu, tekstur es serutnya pun lembut seperti salju. Dan mereka juga menambahkan alpukat yang segar. Es ini juga di kasi topping berupa susu coklat. Rasanya enak dibanding es kacang merah di Jakarta.

Menurut saya,  rumah makan ini tergolong sederhana, karena hanya di fasilitasi kipas angin dan terbuka dari luar. Makanannya termasuk enak, karena rumah makan ini punya cita rasa tersendiri. Dari pisangnya yang memakai sambal dan es kacangnya yang lembut. Harganya berkisar 30k -40k. Makanan ini cocok untuk di nikmati di sore hari, apalagi saat hujan turun.  🙂

Score : 7,5 dari 10

Bebek Bengil, Bali

Posted in Bon Appetite on January 11, 2011 by suqiyaqi

Seperti yang kemarin, saya sudah ceritakan mengenai bebek. Kali ini saya akan membahas tentang bebek yang sudah terkenal dan tidak asing lagi, yaitu Bebek Bengil. Katanya, kalau ke Bali kita wajib mencoba menu makanan yang satu ini. Restoran bebek ini sudah ada sejak 1990 dan terletak di ubud, Bali. Dan restoran ini sudah membuka cabangnya di Jakarta (sayangnya, saya sendiri belum mencoba yang di Jakarta).

Restoran ini cukup tertata dengan rapi dan terkoordinir. Biasanya, pada siang hari, tempat ini ramai di padati oleh wisatawan lokal maupun asing. Saat masuk pun, pelayan akan segera menempatkan kita duduk dan memberikan menu. Lalu, saya memesan nasi bebek goreng, nasi bebek panggang dan ice lemon tea.

Tidak lama menunggu, makanannya datang seperti layaknya restoran cepat saji. Setiap paket nasi bebek ini, di sertai sayur kacang dan sambal. Untuk  rasa bebek gorengnya, renyah pada kulit dan sedikit berminyak di dalamnya. Daging bebeknya juga tebal dan empuk.

Sementara itu, rasa bebek panggangnya tidak seenak bebek gorengnya. Kulit bebek panggang ini terlihat gosong dan terasa pahit di lidah. Mungkin karena ini dipanggang, tidak terlihat minyak di dalamnya. Dagingnya pun tidak kalah empuk dengan bebek gorengnya. Perpaduan bebek dan sambal memberikan rasa lebih nikmat, tapi sayangnya sambalnya kurang memberi rasa pedas. Sepertinya, sayur kacangnya hanya direbus, karena rasanya hambar di lidah. Rasa ice lemon tea sama seperti kebanyakan di restoran lainnya.

Restoran ini mempunyai konsep seperti semi terbuka (hanya tertutup pada bagian atas dan sekitarnya terbuka), sehingga udara terasa sejuk dan nyaman. Di tengah- tengahnya terlihat sepetak tanah dengan tanaman padi dan kolan ikan kecil yang mengelilingi restoran ini.

Komentar saya mengenai bebek bengil :  Makanannya sendiri bisa dibilang lumayan, karena mempunyai ciri khas sendiri. Hanya saja, sambalnya tidak terasa pedas dan sayurnya terasa hambar. Pelayanannya juga termasuk ramah dan cepat saji. Harga seporsi nasi bebek berkisar 70k – 80k. Mungkin karena namanya sudah terkenal, restoran ini tampak ramai saat jam makan siang.

Score : 7 dari 10

 

Bebek Tepi Sawah, Bali

Posted in Bon Appetite on January 10, 2011 by suqiyaqi

Pas lagi liburan ke Bali, ada satu tempat makan menarik yang saya temukan secara tidak sengaja. Namanya yaitu Bebek Tepi Sawah. Kedengarannya cukup unik, bukan!?

Restoran bebek ini terletak di daerah Ubud, Bali. Arahnya berlawanan dengan bebek bengil (dirty duck) yang terkenal itu. Yah sesuai dengan nama dari restoran ini, maka menu andalannya adalah bebek goreng. Saya memesan nasi bebek goreng dan jus alpukat.

Di restoran ini tampak menarik, karena pada halaman belakangnya terdapat hamparan sawah (mungkin karena alasan tersebut, restoran ini diberi nama “bebek tepi sawah”). Sambil menunggu menunya dihidangkan, saya melihat-lihat sawah yang cukup luas tersebut. Kadang ada pemandangan, seorang peternak sedang menggiring bebek-bebeknya ke sawah.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya makanan saya pun datang. Nasi bebek goreng berserta 3 rupa macam sambal (sambal goreng, sambal matah, dan sambal bawang). Awalnya, saya mencoba kulitnya yang crispy, dan ternyata enak. Kemudian saya mencobanya dengan sambal goreng, rasanya juga tidak kalah enaknya. Daging bebeknya juga lembut dan tebal, tidak seperti bebek-bebek goreng yang ada di Jakarta (keras dan sedikit dagingnya). Oh iya, tulangnya juga tidak kalah renyahnya dan bisa dimakan (bagi yang suka makan tulang ).

Setelah makan, saya pun mencicipi jus alpukat yang sudah tersedia.  Tekstur dari jus ini kental dan menarik untuk dicicipi. Sebenarnya, rasanya seperti jus alpukat lainnya. Tapi, karena haus setelah makan, saya pun menghabiskannya.

Komentar saya mengenai restoran ini : Bebek ini lebih enak dibandingkan bebek bengil. Dari segi sambal, bebek ini jauh lebih enak (karena lebih pedas dan saya suka pedas). Walaupun harga bebek (70-75k) di sini tidak berbeda jauh dengan bebek bengil, saya lebih suka makan disini karena faktor rasa dan pemandangan sawahnya. Pelayanan disini cukup ramah dan bersahabat. Sayangnya penyajian makanannya cukup lama (sekitar 20-30 menit). Suasana di sini pun cukup nyaman dan tidak terlalu ramai.

Score : 8 dari 10

Paulaner Brawhaus, Jakarta

Posted in Bon Appetite on January 9, 2011 by suqiyaqi

Mendengar nama Paulaner ini rasanya tidak asing lagi buat para pecinta beer, yang katanya enak dan manis. Selain itu ada juga Pork knuckle-nya yang hits itu. Saya pun ga mau ketinggalan buat mencobanya…..

Karena adanya promo dari kartu kredit BCA (beli 1 gratis 1, hari rabu saja!!!!), akhirnya saya bersama teman memutuskan untuk pergi ke sana di siang hari. Paulaner ini letaknya di Grand Indonesia (kalau lewat dari depan bundaran HI, belok kiri, letaknya di seberang Plaza Indonesia).

Karena kita perginya siang, keadaan di Paulaner ini tidak begitu ramai pengunjungnya. Tapi suasana di sini cukup menarik dan nyaman (dengan hiasan gentong-gentong bir dan pelayan yang menggunakan seragam khas). Kita pun memutuskan untuk memesan 1 Lager beer 300 mL, 1 Dark beer 500 mL, Meat Platter, dan  Crispy Pork Knuckle.

Awalnya, kita di suguhin bir, lalu kitapun mencobanya. Karena saya bukan pecinta bir, jadi menurut saya rasanya aneh (baik itu lager maupun dark). Tapi menurut teman saya, Dark beer terasa lebih manis daripada Lager. Tidak lama kemudian, disajikanlah meat platter, yang isinya : boiled pork knuckle, crispy pork knuckle, bockwurst, bratwurst, meat loaf (2 buah) , spek ham (warna merah). Dan terakhir yang ditunggu-tunggu : Crispy Pork Knuckle!!!!

Pertama-tama, saya mencoba crispy pork knuckle yang hits itu, rasa kulitnya memang renyah dan bikin orang ingin makan lagi dan lagi. Kedua, saya mencoba boiled pork knuckle, menurut saya rasanya hambar (seperti daging rebus), lalu saya juga mencoba sosis-sosisnya (dari yang direbus sampai yang di grill). Menurut saya pribadi, sama seperti sosis babi yang dijual di pasaran. Untuk hamnya, terasa lebih enak daripada daging kalengan di pasaran.

Karena menu yang kita pesan tidak habis dimakan, akhirnya kita memutuskan untuk membungkus dan bawa pulang. 1 porsi meat platter bisa untuk 2-3 orang, begitupula dengan Pork knuckle-nya. Karena promo, jadi pork knucklenya dikasih secara cuma-cuma. 😀

Komentar saya pribadi tentang Paulaner : suasananya cukup menarik dan nyaman untuk kumpul bersama teman-teman. Pelayanan cukup ramah.  Rasa crispy prok knucklenya paling enak dibanding daging lainnya. Karena saya tidak suka bir, jadi saya tidak bisa komentar terlalu banyak. Kalau menurut teman saya, birnya enak dan manis. Sayang harganya cukup mahal. 1 gelas bir berkisar 40k (300mL), 70k (500mL). 1 meat platter atau 1 pork knuckle berkisar 200k

Saran :

– Tidak diperuntukkan orang yang overweight, lagi diet, ataupun orang dengan kolesterol tinggi. :p

– Karena menunya non-halal, tidak disarankan untuk orang yang haram terhadap menu di atas.

Score : 8 dari 10

Holycow steak, Jakarta

Posted in Bon Appetite on January 6, 2011 by suqiyaqi

Holycow steak

Berawal dari twitter (@holycowsteak) yang mempromosikan wagyu dan banyak yang merekomendasikan untuk mencobanya. Maka tertariklah saya untuk mencobanya… Lalu pergilah saya ke daerah radio dalam dan mencari2 letaknya yang katanya di sebelah Alfa Midi. Awalnya sih agak males juga, karena saya harus mengantri dan dapat urutan nomor 30. Tapi, karena sudah jalan jauh, macet dan demi memenuhi rasa penasaran,  akhirnya rela mengantri dan menunggu sekitar 1 jam. Selama 1 jam, bisa aja jalan-jalan ke Alfa Midi atau ke tempat dimsum yang letaknya tidak jauh dari situ.

Setelah namanya dipanggil, akhirnya saya memutuskan untuk memesan wagyunya yang tersohor itu. Dan saya memesan(welldone) dengan mushroom sauce. Sambil menunggu wagyu, biasanya kita disuguhi  keripik kentang buat camilan pembuka (ini gratis lho!!!). Kira-kira 15 menit kemudian, muncullah wagyu yang ditunggu-tunggu. Saya coba irisan pertama (tanpa bumbu), mmm… rasanya enak banget. Lalu saya coba irisan kedua (dengan mushroom sauce), mmm…. rasanya juga enak ternyata. Karena saya pecinta pedas, saya tambahkan juga sambal botol dan menikmati steak saya sampai habis….Setelah itu buat dessertnya (kalau masih ada), setiap kita mention @holycowsteak, kita bisa dapatin tiramisu gratis. Dan sayapun mencoba tiramisunya yang lembut dan manis itu.

Komentar saya tentang steak yang letaknya di radio dalam ini : kualitas rasa boleh di adu. Dagingnya empuk dan enak. Pelayanannya cukup ramah dan cepat. Hanya disayangkan tempatnya sempit, agak panas dan bukanya malam (17.30-habis). Harga untuk wagyunya sekitar 90k-100k.

Score : 8,5 dari 10

Lind’s Ice Cream (Semarang)

Posted in Bon Appetite on January 5, 2011 by suqiyaqi

Menurut saya, pelayanan di lind’s cafe ini masi perlu ditingkatin lagi, karena pelayanannya lama (baik it kasih menu ataupun dalam hal memesan). Kalau untuk kebersihannya bisa dikatakan baik. Penyajian makanan termasuk baik, rasa bisa dibilang lumayan, satu porsi es krim ini cukup untuk 1-2 orang. Harga berkisar 20k-50k perporsi.

Score : 7 dari 10

My New Blog

Posted in Uncategorized on January 5, 2011 by suqiyaqi

I just try to make a new blog for share all about me and something around me… Enjoy it 🙂